Translate

Selasa, April 21, 2009

PULAU RUSA Salah Satu Pulau Kecil Terluar di NAD)



PULAU RUSA (Salah Satu Pulau Kecil Terluar di NAD)
Oleh: Tonny F. Kurniawan

Letak Geografis dan Kondisi Wilayah Pulau Rusa
a. Letak Geografis
Secara geografis pulau ini memiliki koordinat pada 05 16’34” U dan 95 12’07”T. Pulau Rusa mempunyai titik dasar pada TD.175 TR.175 dan terletak di Samudera Hindia. Secara administratif pulau ini terletak di Kabupaten Aceh Besar, Propinsi Nangroe Aceh Darusalam.

b. Topografi
Pulau Rusa memiliki topografi berbukit (Kount), dengan ketinggian sedang hingga sekitar 32 m di atas permukaan laut (elevasi ketinggian 0- 32 m di atas permukaan laut). Sebagian wilayah pulau ini merupakan perbukitan denudasional terkikis ringan hingga ke arah tengah pulau (lahan terbuka). Namun demikian, di tengah pulau dan sisi lainnya banyak ditumbuhi oleh pohon- pohon ukuran sedang. ditengah pulau Beberapa bagian pantai terlihat terjal sehingga agak sulit didarati dari arah laut.

c. Litologi
Seperti halnya Pulau Raya, Pulau Rusa juga tersusun dari endapan aluvium. Endapan aluvium ini merupakan hasil pengikisan dari erosi dan abrasi dari batu gamping formasi wapulaka (batuan yang lebih tua). Sedangkan sebagian besar dataran pesisir dan beberapa lahan terbuka umumnya mempunyai struktur yang bercampur dengan pasir, karang, dan banyak batu-batu besar.

d. Klimatologi
Pulau Rusa juga termasuk pulau dengan iklim tropis. Musim hujan terjadi antara bulan Juli sampai dengan Desember setiap tahunnnya dengan curah hujan rata-rata mencapai 2.235,2 mm/tahun. Sedangkan musim kemarau terjadi antara bulan Januari sampai dengan bulan Juni setiap tahunnya. Suhu udara di sekitar Pulau Rusa berkisar 20,5 – 29,8 °C.

e. Kondisi Perairan

Kondisi perairan Pulau Rusa juga termasuk agak sedikit keruh dengan ombak yang sedang. Hal ini karena letak Pulau Rusa yang berdekatan dengan dataran Pulau Sumatera yang banyak aktivitas pesisirnya. Arus di daerah perairan pulau ini berasal dari Samudera Hindia bergerak menuju timur dan sebagian dibelokkan ke selatan dengan kecepatan sekitar 0,42 m/detik.
Kualitas perairan Pulau Rusa yaitu sebagai berikut :
· Warna < 5,1 unit
· Temperatur 26,6 oC
· pH 6,9
· Turbidity berkisar 0,10 – 1,01 NTU
· Total suspended solid (TSS) berkisar 13,410 – 13,960 mg/l

Potensi Sumberdaya Alam Pulau Rusa
a. Potensi Perikanan
Sumberdaya ikan pelagis yang banyak terdapat di perairan Pulau Rusa adalah teri, kembung, dan layang. Sedangkan untuk ikan demersal di antaranya cakalang, kerapu, tuna, udang sabu, lobster, dan teripang. Alat-alat tangkap yang sering digunakan oleh nelayan di sekitar Pulau Rusa adalah jaring hanyut dan pancing. Beberapa nelayan ada juga yang melakukan penyelaman untuk menangkap teripang.

b. Biota Laut yang Potensial
Adapun biota laut potensial yang terdapat di sekitar perairan Pulau Rusa adalah :
Udang Lobster dijual dengan harga 100-200 ribu/ kg. Jumlahnya bisa mencapai 1 Ton / Minggu
Teripang dijual sekitar 400 ribu/ kg (kering), 100 ribu/ kg (basah). Jumlahnya bisa mencapai 500 kg / minggu.
Sedangkan rantai pemasarannya adalah Desa (nelayan) -Banda Aceh-Jakarta-Hongkong.

c. Kondisi Terumbu Karang
Secara umum, kondisi terumbu karang yang terdapat di perairan Pulau Rusa mempunyai kenampakan yang relatif sama pada beberapa titik sampel dengan lebar berkisar 80 – 540 m. Terumbu karang yang terdapat di peraiaran Pulau Rusa ini juga termasuk ke dalam tipe terumbu karang tepi (Fringing Reef) yang berkembang sepanjang pantai dengan kemiringan landai.

Penutupan karang yang terjadi perairan Pulau Rusa diperkirakan mencapai 56,48 % dengan kondisi terumbu karang yang masih alami. Kerusakan karang di wilayah ini tidak banyak terjadi yang diduga oleh aktivitas penangkapan yang masih ramah lingkungan dan pengambilan karang untuk kepentingan komersial tidak ada.

d. Ekosistem Mangrove dan Vegetasi Pantai Lainnya
Ekosistem mangrove yang dapat ditemukan di Pulau Rusa mempunyai ketinggian antara 0,5 - 3,0 meter dengan tingkat kerapatan yang rendah. Kondisi ekosistem mangrove ke arah daratan tidak berkembang dengan baik karena beberapa bagian pantai yang terjal menyulitkan perkembangan mangrove dan pada bagian yang landai dimanfaaatkan untuk perkebunan kelapa. Jumlah pohon kelapa tidak begitu banyak dan penguasahaannya lebih bersifat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi Sosial, Budaya, Ekonomi dan Infrastruktur Pulau Rusa
a. Sejarah Nama Pulau
Pulau ini di beri nama Pulau Rusa, karena memang dari kejauhan berbentuk seperti Rusa. Namun akibat tsunami Desember 2004 yang lalu, bentuk seperti binatang rusa tidak begitu kelihatan jelas. Bentuk Rusa tersebut hilang akibat pengikisan dan hempasan gelombang besar ini.

b. Sosial Budaya
Pulau Rusa terletak di wilayah Aceh Barat, pulau ini tidak dihuni penduduk. Selain susahnya sumber air tawar, sarana sumber daya dan lahan yang ada cukup terbatas. Ada tiga desa yang letaknya berdekatan dengan pulau Rusa, yaitu desa Saney, desa Utamong dan desa Kareun. Sebelum tsunami, Pulau Rusa ini kadang-kadang dijadikan tempat singgah para nelayan, atau tempat orang memetik pohon kelapa, tetapi setelah adanya bencana tsunami jarang sekali orang singgah ke pulau, karena pohon kelapa juga jumlahnya semakin sedikit. Dalam sebulan diperkirakan hanya disinggahi oleh 5-10 orang saja. Hewan yang masih tinggal didalam pulau adalah babi, ular dan hewan melata lainnya.

c. Penduduk dan Mata Pencaharian
Salah satu desa yang penting yang berperan dalam pemanfaatan Pulau Rusa adalah penduduk desa Saney. Desa Saney mempunyai penduduk ± 365 jiwa (sebelum tsunami). Pada saat tsunami, penduduk desa ini meninggal ± 290 jiwa. Sedangkan sisanya sekitar 84 jiwa selamat dan melanjutkan kehidupannya kembali di desa saney dengan fasilitas-fasilitas baru semua (bantuan rumah, perahu dan kembali mencari ikan di laut).

Mata pencaharian umumnya nelayan, bertani dan beternak (sambilan), seperti ternak ayam, lembu, kambing dan kerbau. Kegiatan melaut sebagai nelayan umumnya dilakukan pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan biasanya digunakan untuk bertani. Hasil laut sebagian dijual di desa, sebagian di jual ke Banda Aceh. Pendapatan nelayan jika hasil tangkapan normal rata-rata per minggu (3-5 kali melaut) adalah sebesar 2,5 juta rupiah /orang.

d. Infrastruktur Umum dan Penunjangnya
Infrastruktur seperti mesjid, sekolah, kantor desa, TPI dan rumah penduduk mengalami kerusakan akibat tsunami, jarak 500-800 m dari laut tinggallah puing-puing sisa bangunan yang tersisa.

Yang menjadi kendala dalam pemanfaatan infrastruktur yang ada para nelayan adalah terbatasnya jumlah minyak untuk pergi melaut, sehingga terkadang hasil tangkap terkadang di jual di lokasi terdekat (tidak di TPI). Volume minyak yang mereka butuhkan adalah 1 drum (± 220 liter) untuk 2 hari melaut. Harga yang berlaku sekarang berkisar antara 3000-3500/ liter.

Bantuan dari NGO (Non Government Organization) yaitu badan yang bertanggung jawab dalam rekonstruksi Aceh adalah pembangunan TPI (dalam proses pembangunan, cukup sederhana), Kantor Koprasi, jalan, tambak, perahu, mobil L 300 Pick Up (untuk mengangkut pemasaran hasil laut, sudah dioperasikan).

_____________________________________

Pulau Salaut Besar (Salah Satu Pulau Kecil Terluar di NAD)

Pulau Salaut Besar (Salah Satu Pulau Kecil Terluar di NAD)
Oleh: Tonny F. Kurniawan

Letak Geografis dan Kondisi Wilayah Pulau Salaut Besar
a. Letak Geografis
Pulau Salaut Besar berada pada koordinat 02o 55’926” LU dan 95o 48” BT, mempunyai luas sekitar 217,64 Ha. Pulau yang tidak berpenghuni ini mempunyai potensi terutama pohon kelapa, sekitar 96%. Secara administratif pulau ini terletak di Kabupaten Semeulue, Propinsi Nangroe Aceh Darusalam yang berbatasan dengan negara tetangga yaitu India. Pulau Salaut Besar terletak di pantai Barat Sumatera, merupakan salah satu dari 43 pulau-pulau kecil di Kabupaten Simeuleu Propinsi NAD.


b. Topografi
Elevasi ketinggian Pulau Salaut Besar sangat rendah yaitu antara 0 – 3 m di atas permukaan laut (dpl). Pulau Salaut Besar pada dasarnya merupakan pulau karang terlihat dari keliling pulau umumnya terdapat batuan karang, yang merupakan satu gugusan dengan pulau selaut kecil yang berada sebelah timur, pada sisi timur pulau tampak pantai pasir putih yang cukup panjang membentang lurus.


Topografi pantai Pulau Salaut Besar mempuyai kedalaman bervariasi antara 2 sampai 18 meter dengan ketinggian gelombang berkisar antara 0,5 - 3 meter. Dasar perairan pantai tidak begitu dasar, beberapa bagian membentuk tumpukan/bukit karang kecil.

c. Litologi
Pulau Salaut Besar merupakan pulau yang tersusun atas batuan alluvial, podsolik merah kuning, podsolik merah coklat, dan batu kapur/karang. Batuan-batuan tersebut membentuk tanah kapur yang cocok untuk pertumbuhan kelapa. Lapisan terluar tanah umumnya berwarna coklat dan pada kedalaman 1 – 1,5 m, lapisan kapur terlihat jelas dengan warna yang kuning keputihan.

d. Klimatologi
Seperti umumnya pulau-pulau di Indonesia, pulau Salaut Besar mempunyai iklim yang tropis. Kondisi temperatur harian di sekitar Pulau Salaut Besar berkisar antara 21,2 - 30,43 °C. Sedangkan kecepatan angin mencapai 13,3 knot dengan arah angin terbanyak menuju arah barat. Curah hujan cukup tinggi, yaitu mencapai 2.786 mm/tahun.

Keadaan curah ini ditentukan oleh fluktuasi musim hujan dan kemarau, dimana musim barat/hujan berlangsung sejak bulan Juli sampai dengan Desember dan musim timur/kemarau berlangsung antara bulan Januari sampai dengan Juni setiap tahunnya. Suhu udara maksimum di Pulau Salaut Besar berkisar 26 – 35 oC dan suhu udara minimum berkisar 17,7 – 25,4 oC. Kelembaban nisbi berkisar 70 - 78 % sepanjang tahun.

e. Kondisi Perairan
Kondisi perairan Pulau Salaut Besar cukup jernih dengan ombak cukup besar. Arus di daerah perairan pulau ini berasal dari Samudera Hindia. Tinggi gelombang rata-rata di daerah ini adalah 60,45 cm dengan periode 4,25 detik, sedangkan dalam kondisi cuaca buruk tinggi gelombang maksimum mencapai 435 cm. Temperatur/suhu air berkisar 26 – 29 oC, pH 7,4, dan turbidity 0,29 NTU.

Potensi Sumberdaya Alam Pulau Salaut Besar
a. Potensi Perikanan
Pulau Salaut Besar merupakan Fishing Ground sebagian besar nelayan-nelayan di wilayah Aceh dan Sumatera bagian barat. Hal ini dikarenakan besarnya potensi sumberdaya perikanan laut dengan keanekaragaman yang tinggi terutama jenis-jenis ekonomis penting yang berorientasi ekspor seperti ikan kakap merah, kerapu, tuna dan cakalang. Pulau Salaut Besar juga mempunyai potensi yang besar, terutama pengembangan kegiatan-kegiatan yang menyangkut dengan perikanan tangkap berbasis samudera.

Di Pulau Salaut Besar ini tidak terdapat kegiatan budidaya laut maupun tambak. Hal ini karena penduduk yang mengelola pulau lebih memperioritas kegiatannnya pada perkebunan kelapa. Di samping itu, juga karena area untuk tambak yang tidak tersedia.

Disamping merupakan Fishing Ground, Pulau Salaut Besar terkenal dengan kekayaan flora dan fauna, terutama sebagai tempat bertelur (Nesting Area) dari berbagai jenis penyu. Sebagian kawasan Pulau Salaut Besar berpasir putih dan mempunyai ombak panjang serta tinggi terus-menerus datang tanpa henti sepanjang tahun, seperti di sekitar Pulau Salaut Kecil. Di sana juga ada beberapa orang penjaga pulau yang berasal dari Desa Lewak, kecamatan Alafan Kabupaten Simeulue.

b. Vegetasi
Pulau Salaut Besar juga dikenal dengan istilah pulau kelapa karena vegetasi pohon kelapanya yang menutupi 96 % luasan pulau. Bagian tengah pulau didominasi dengan vegetasi tegakan yakni pohon kelapa yang cukup rapat, namun sebagian kecil ada lahan yang terbuka diduga adalah bekas aktivitas orang yang mengolah hasil kebun kelapa. Saat ini luas perkebunan kelapa di Pulau Salaut besar diperkirakan mencapai 13 hektar dan pada saat tsunami banyak mengalami kerusakan.

Berdasarkan informasi Koran Tempo (Agustus, 2005), pada tahun 2004 produksi kelapa Pulau Salaut Besar mencapai 30,35 ton. Jumlah produksi dari tahun 1995 yang mencapai 45 ton dan tahun 1970 yang mencapai 120 ton. Namun demikian, potensi kelapa yang cukup besar ini tentu memberi prospek bagi pengembangan industri kecil dan menengah pembuatan minyak kepala atau produk antara, dan lain-lain.

b. Kondisi Terumbu Karang
Kondisi terumbu karang di seluruh perairan Salaut Besar mempunyai kenampakan yang cukup beragam. Berdasarkan bentuknya, terumbu karang yang terdapat di Pulau Salaut Besar sebagai besar tergolong tipe terumbu karang tepi (Fringing Reef). Berdasarkan persentase penutupannya, kondisi terumbu karang di sekitar Pulau Salaut besar secara umum tergolong cukup baik. Penutupan karang hidup pulau ini mencapai 45,45 %.

Namun demikian, beberapa bagaian dari terumbu karang sudah ada yang rusak atau mati. Hal terjadi karena adanya aktivitas penangkapan ikan karang yang menggunakan bahan peledak. Terumbu karang yang berhasil pulih pada lokasi ini umumnya kerdil dengan ekossitem terumbu karang tidak lengkap.

c. Ekosistem Mangrove dan Lamun
Ekosistem mangrove hampir tidak ditemukan di pesisir Pulau Salaut Besar. Hal ini karena permukaan pulau sebagian besar telah ditanami pohon kelapa.

Kondisi Sosial Budaya, Ekonomi dan Infrastruktur Pulau Salaut Besar
a. Sejarah Pulau
Pulau Salaut Besar merupakan pulau yang secara turun-temurun menjadi penghasil kelapa. Pada jaman Belanda, pulau Salaut Besar ini menjadi penyuplai penting bagi kebutuhan industri yang dikembangkan oleh Belanda dan kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitarnya. Di samping itu, pulau Salaut Besar ini biasanya dijadikan tempat persinggahan oleh para nelayan/pelaut sebelum melakukan pendaratan di pesisir Pulau Simeulue dan Pulau Sumatera. Karena ukurannya yang lebih besar dari pulau sebelah, maka Pulau ini dinamai Pulau Salaut Besar.

b. Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk yang bertinteraksi dengan Pulau Salaut Besar umumnya sebagai nelayan, petani, dan nelayan merangkap petani perkebunan kelapa. Mata pencaharian sebagai nelayan merangkap petani termasuk yang dominan dan sangat penting bagi pengembangan pulau. Hal ini karena nelayan yang merangkap petani yang secara rutin berinteraksi dan menggarap perkebunan kelapa, yang mungkin disebabkan oleh sarana transportasi (kapal) yang rata-rata dimiliki oleh nelayan merangkap petani. Sedangkan yang murni sebagai petani biasanya hanya menumpang atau menyewa perahu.

Hasil tangkap maupun hasil perkebunan kelapa selama ini biasanya dijual ke pasar ibukota kabupaten atau pasar-pasar lokal terdekat di dataran Pulau Simeulue dan Pulau Sumatera bagian utara tersebut. Dari segi pemenuhan kebutuhan hidup, sebagian masyarakat yang berinteraksi dengan Pulau Salaut Besar ini merasa cukup dan mudah dalam mencukupi keperluan sehari-hari.

c. Infrastruktur Umum dan Peluang Investasi
Infrastruktur umum tidak tersedia di Pulau Salaut Besar. Hal ini karena pulau tersebut tidak dihuni penduduk. Kegiatan investasi yang dapat dikembangkan di Pulau Salaut Besar adalah kegiatan industri kecil menengah dan pariwisata. Industri kecil menengah yang dimaksud adalah industri pengolahan kelapa menjadi kopra atau produk antaranya. Sedangkan pariwisata yang bisa dikembangkan adalah wisata pantai yang didukung oleh pasir pantai yang putih dan bersih, serta sunset yang indah.

______________________________

PULAU BENGGALA (Salah Satu Pulau Kecil Terluar di NAD)


PULAU BENGGALA (Salah Satu Pulau Kecil Terluar di NAD)
Oleh: Tonny F. Kurniawan



Letak Geografis dan Kondisi Wilayah Pulau Benggala
a. Letak Geografis
Secara geografis pulau ini memiliki koordinat pada 05 47’34” U dan 94 58’21”T. Pulau Benggala mempunyai titik dasar pada TD.176A TR.176A dan terletak di Samudera Hindia. Secara administratif pulau ini terletak di Kabupaten Sabang, Propinsi Nangroe Aceh Darusalam yang berbatasan dengan negara tetangga yaitu India. Pulau Benggala pada dasarnya merupakan pulau batu, yang terdiri dari 2 bagian batuan vulkan yang tampak dari citra cukup jelas


b. Kondisi perairan
Kondisi perairan Pulau Benggala juga termasuk jernih dengan ombak yang sedang. Hal ini karena angin yang bertiup kencang dari barat tidak ada penghalang hingga ke Pulau Benggala. Arus di daerah perairan pulau ini berasal dari Samudera Hindia bergerak menuju timur tanpa pembelokan yang berarti. Kecepatan arus sekitar 0,62 m/detik.

Potensi Sumberdaya Alam Pulau Benggala
a. Sumberdaya Perikanan
Perairan Pulau Benggala memiliki kekayaan hayati yang melimpah, antara lain terumbu karang dan berbagai jenis ikan seperti ikan hias, tuna, tenggiri, cakalang, kembung, kerapu, kakap, dan teri. Seperti halnya perairan Pulau Rondo, perairan pulau ini juga terkadang dijumpai ikan hiu, sehingga cukup mengkhawatirkan bagi nelayan. Namun demikian, hal ini hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu, dan beberapa tahun terakhir tidak pernah muncul lagi. Alat tangkap yang banyak dioperasikan oleh nelayan dalam penangkapan adalah pukat, jaring insang, dan long line.

b. Terumbu Karang, Biota Penghuni dan Vegetasi Pantai
Pulau Benggala pada dasarnya merupakan pulau batu, yang terdiri dari 2 bagian batuan vulkan yang tampak dari citra cukup jelas. Pulau Benggala memiliki berbagai jenis terumbu karang dengan persentase penutupan sekitar 43,4 %. Jenis karang yang dominan berupa karang keras (Hard Coral) 75,2 %, jenis lainnya yaitu karang mati (Dead Coral) 10,8%, dan karang lunak (Soft Coral) 14 %.
Karang yang ditemukan di dasar Pulau Benggala memiliki ukuran koloni karang relatif besar dengan diameter rata-rata mencapai 198,2 cm, terutama dari jenis koloni karang yang bentuknya cenderung melebar. Kondisi terumbu karang di dasar perairan Pulau Benggala masih termasuk alami dan dalam kondisi baik. Hal ini terjadi karena kurangnya interaksi manusia dengan ekosistem terumbu karang baik melalui kegiatan penangkapan, penambangan maupun lainnya. Biota yang banyak hidup di sekitar terumbu karang di dasar perairan Pulau Benggala ini adalah ikan kecil sejenis teri, bulu babi, teripang, siput dan kerang. Oleh karena Pulau benggala banya berupa batuan cadas besar, maka tidak ditumbuhi oleh tumbuhan apapun kecuali lumut-lumut yang menempel.

Kondisi Sosial dan Aksesabilitas ke Pulau Benggala
Pulau Benggala merupakan salah satu pulau atol disamping Batei Lhe Blah. Pulau ini sejak lama tidak berpenghuni karena memang tidak bisa dihuni dan terbentuk dari batu cadas di tengah selat Benggala.

Pulau Benggala diperkirakan terbentuk sejak 2 atau 3 juta tahun yang lalu karena pengangkatan atol. Sisi luar Pulau Benggala umumnya merupakan tebing yang tinggi dan curam yang langsung masuk ke laut. Perairan laut Pulau Benggala menyajikan keindahan alam, merupakan daerah berarus kencang, dimana sangat berpotensi sebagai Fishing Ground area, karena akibat terbentuknya Front atau Up-welling.
Untuk mencapai Pulau Benggala diperlukan perjalanan yang culup jauh dari Kota Banda Aceh sekitar ± 3 jam perjalanan dengan kapal nelayan. Untuk menghindari ombak yang besar di laut lepas, maka kapal yang digunakan sebaiknya yang berukuran sedang ke atas (10 GT).
___________________________________